Nilai 50 dari DPR untuk Menpar: “Masih Jauh dari Harapan”

posmetro88.com – Seorang anggota DPR buka suara. Terang-terangan memberi nilai: 50 dari 100 untuk kinerja Menteri Pariwisata. Bukan cuma asal lempar angka. Tapi, katanya, hasil dari “mengamati cukup lama”.

Skor setengah itu bukan tanpa alasan.

Menurut anggota dewan tersebut, capaian Menpar sejauh ini belum menggigit. Banyak program pariwisata jalan, tapi tidak terasa. Khususnya di daerah. Yang katanya jadi ujung tombak penggerak sektor ini, tapi malah sering di tinggal sendiri.

“Kalau di tanya, apa yang sudah di capai? Ada. Tapi apakah cukup? Belum,” ujarnya ketika di temui di kompleks parlemen.

Salah satu masalah yang di sorot adalah koordinasi. Kementerian, kata dia, seperti jalan sendiri. Pemerintah daerah, pelaku industri, stakeholder lokal — tidak semuanya di rangkul. Padahal, tanpa sinergi lintas sektor, kebijakan sebesar apa pun cuma akan mentok di tataran pusat.

Yang bikin ia gelisah, bukan cuma soal angka-angka. Tapi soal dampaknya di lapangan. Apakah masyarakat merasakan? Apakah pelaku wisata melihat perubahan? Itu yang jadi ukuran sesungguhnya.

Meski terdengar tajam, sang anggota DPR mengaku penilaian ini bukan akhir. Masih ada ruang untuk membaik. Tapi ruang itu, katanya, semakin sempit kalau tidak ada percepatan dalam realisasi program. Bukan lagi soal janji, tapi soal aksi nyata.

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi terus-menerus. Bukan hanya soal promosi dan branding, tapi juga soal infrastruktur, manajemen destinasi, dan keberlanjutan. Semua itu tidak bisa hanya di tulis rapi di dokumen. Harus bisa di rasakan mereka yang hidup dari sektor ini.

Kementerian Pariwisata sendiri, hingga berita ini di turunkan, belum memberi tanggapan resmi atas “rapor” dari wakil rakyat tersebut.

DPR berharap, evaluasi ini tak di anggap serangan. Tapi teguran keras yang konstruktif. Karena pariwisata — di tengah persaingan global dan perubahan pola wisata pascapandemi — butuh pengelolaan yang bukan cuma cantik di presentasi. Tapi kuat di implementasi.

Dan saat performa masih dianggap setengah jalan, mungkin sudah waktunya tanya:
apa yang harus di selesaikan sekarang, bukan nanti.