Sekolah di Sumatra Harus Cepat Pulih, Kata Ketua Komisi X

Dampak bencana di Sumatra ternyata nggak cuma soal rumah rusak atau jalan terputus. Puluhan, bahkan ratusan ribu anak sekolah ikut kena — sekolah roboh, akses ke sana susah, jadwal belajar berantakan. Melihat situasi ini, Ketua Komisi X, Hetifah Syaifudian, angkat bicara: “Sekolah harus segera bisa di pakai lagi.”

Menurut Hetifah, anak‑anak itu korban paling rentan kalau pendidikan macet terlalu lama. Dia bilang, jangan cuma fokus soal bangunan atau logistik — tapi juga perhatikan kebutuhan belajar mereka: ruang sementara, alat tulis, guru, bahkan pendampingan psikologis jika di perlukan.

“Jika kita tidak segera merespons, perkembangan generasi mendatang dapat terhambat,” katanya. Oleh karena itu, dia tekankan pentingnya data dulu: sekolah mana saja yang rusak, berapa banyak siswa terdampak, bagian mana paling urgent di benahi. Data itu nanti jadi panduan agar bantuan tepat sasaran.

Dia juga menyerukan supaya semua pihak — pemerintah pusat, daerah, masyarakat, sampai relawan — terlibat aktif. Pendidikan tak boleh di anggap urusan sekadar gedung; ini soal masa depan anak-anak dan komunitas.

Kalau kamu melihat kondisi di lapangan — banyak sekolah porak‑poranda, fasilitas padam, anak‑anak pada bingung mau sekolah ke mana — kamu bakal setuju: memang benar, pemulihan harus cepat. Bukan besok atau lusa, tapi sekarang juga.