posmetro88 – Ruangan di bilangan Menteng itu lengang, sampai Duta Besar Saudi tiba dan membuka percakapan—topiknya tak main-main: eskalasi di Levant, Yemen yang masih berasap, negarawan mana saja yang bisa menurunkan suhu. Nama Megawati meluncur dari bibir sang dubes, seolah kartu diplomasi yang sudah lama tersimpan di saku.
Kenapa Megawati? Riwayatnya saat memimpin forum dialog antaragama, jaringan lama yang menembus Riyadh hingga Teheran, plus label “elder stateswoman” di Asia Tenggara. Dubes meyakini figur semacam itu dapat memecah kebuntuan wicara—setidaknya membuka pintu telepon sebelum misil berikutnya terbang.
Dalam obrolan empat mata, ia menggambarkan Timur Tengah bak papan catur yang kian rapuh: setiap bidak bergerak, papan ikut berderak. Delegasi Saudi menilai Indonesia—dengan prinsip bebas aktif—punya soft power unik: populasi muslim besar, tapi tak terikat blok mana pun. Bahasa sederhananya, Jakarta bisa jadi broker netral.
Megawati belum mengumbar sikap. Ia hanya mengangguk, menanyakan detail peran yang di harapkan: mediasi di PBB? jalur belakang ke pemimpin faksi? atau sekadar menghidupkan lagi Konferensi Asia-Afrika sebagai panggung dialog? Semua masih di kertas kerja.
Para pengamat menilai wacana ini realistis sekaligus menantang. Indonesia memang kerap bersuara soal Palestina atau Suriah, tapi mengerahkan figur senior untuk turun langsung jauh lebih kompleks—butuh sinergi Kemenlu, dukungan politik dalam negeri, sampai kalkulasi reputasi pribadi Megawati sendiri.
Meski begitu, permintaan Saudi mencerminkan satu fakta: suara damai tak harus datang dari barat atau dewan veto, kadang justru di butuhkan dari selatan khatulistiwa—tempat diplomasi kerap di bumbui gotong-royong. Kini bola ada di tangan Megawati; apakah ia siap menjejakkan kembali langkah di panggung geopolitik, atau memilih tetap menjadi penasihat senyap di belakang layar.
