Bukan Hanya Rumah yang Runtuh, Tapi Juga Mental Para Ibu

posmetro88.com – Di tengah puing-puing yang belum sepenuhnya di bersihkan, para ibu duduk diam. Beberapa sibuk menghibur anak-anak, yang lainnya menatap kosong ke kejauhan. Ada banyak hal yang hilang dalam bencana kemarin—bukan cuma atap, tapi juga ketenangan.

Satu Hal yang Jarang Di bahas: Luka Batin

“Kami baik-baik saja,” ujar seorang ibu singkat, matanya berkaca-kaca. Tapi gestur tubuhnya berkata lain. Perempuan seperti dia, kata orang dari KemenPPPA yang mendampingi sejak awal, banyak yang menyimpan luka sendiri.

Mereka memang selamat. Tapi trauma itu nyata. Malam-malam tanpa tidur, rasa bersalah karena tak bisa melindungi, atau sekadar takut ketika angin bertiup terlalu kencang.

Logistik Boleh Cukup, Tapi Siapa Obati Trauma?

Dapur umum, bantuan makanan, dan selimut memang datang. Tapi pendampingan psikologis? Itu cerita lain. Masih minim, dan tak semua bisa mendapatkannya.

Padahal, kata staf dari KemenPPPA yang ikut meninjau lokasi, kondisi mental para ibu sangat menentukan proses pemulihan. “Kalau ibunya roboh, yang lain bisa ikut tumbang,” katanya.

Perempuan dan Anak: Korban dalam Senyap

Anak-anak mungkin menangis. Tapi para ibu? Mereka menahan. Seolah tugas mereka hanya menguatkan, padahal diri sendiri belum selesai memproses semuanya.

Kementerian berharap, lebih banyak yang sadar bahwa pendekatan pascabencana tak bisa hanya soal kebutuhan fisik. Harus ada perhatian pada batin, terutama untuk kelompok rentan seperti perempuan dan anak.

Butuh Lebih dari Sekadar Bantuan

Bencana memang tak bisa di cegah, tapi pemulihan bisa di percepat. Bukan hanya dengan membangun rumah baru, tapi juga memulihkan hati yang hancur. Dan itu tak bisa selesai dalam seminggu.